Belajar Jadi Pembimbing

Pekan ini, Excellent kedatangan 2 murid dari salah satu SMK di Pacitan yang ingin melakukan praktek kerja lapangan (PKL) di Excellent. Mereka datang cukup pagi, bahkan sebelum saya datang. Selama 3 bulan kedepan PKL di Excellent, keduanya tinggal bersama keluarga masing-masing di daerah sekitar Bekasi.

Salah satu kewajiban bagi murid SMK adalah melakukan PKL. Jika belum melakukan PKL maka tidak bisa lulus. Kegiatan PKL, minimal dilakukan selama 3 bulan oleh setiap murid SMK, dan umumnya dilakukan saat kelas 11. Bagi yang alumni SMK atau sedang menjalani pendidikan SMK pasti udah tahu ya. Nah saat kegiatan PKL ini biasanya setiap murid memiliki dua pembimbing, pembimbing dari sekolah dan pembimbing dari perusahaan tempat PKL. Kebetulan pembimbing PKL dari sisi Excellent adalah saya.

Saya yang diberi tanggung jawab untuk mengawasi dan membimbing mereka selama disini. Saat diberi tanggung jawab tersebut, saya sudah membayangkan bagaimana sulitnya untuk membimbing mereka, tapi tetap saya terima. Hitung-hitung belajar memimpin dan membimbing orang, siapa tau kan bakal jadi pemimpin perusahaan.

Walaupun sebenarnya saya sudah pernah 2 kali memimpin organisasi ekstrakulikuler di sekolah, wakil ketua ekstrakulikuler Rohani Islam (Rohis) di SMPN 2 Bekasi dan ketua ekstrakulikuler beladiri di SMKN 1 Bekasi, tetap saja saya masih butuh banyak belajar

Apalagi yang saya bimbing adalah murid SMK yang mungkin belum tahu keadaan dunia kerja, yang keadaanya cukup sulit, banyak pesaing. Persaingan sudah semakin ketat, kalo kita tidak bisa bersaing bisa-bisa tergeser oleh orang lain yang lebih capable. Karena sepengalaman saya sekolah 12 tahun, saya jarang sekali diajarkan bagaimana cara menghadapi kehidupan nyata, dalam hal ini dalam dunia kerja, bagaimana cara bersosialisasi dengan orang banyak, bagaimana cara menghadapi lawan bicara, bagaimana cara untuk bersikap setelah lulus dari sekolah, dan masih banyak lagi hal penting yang tidak diajarkan saat di sekolah.

Dan ternyata memang sulit untuk membimbing mereka. Ada beberapa hal yang membutuhkan penjelasan detail supaya mereka benar-benar mengerti. Setelah saya jelaskan pun ternyata tetap ada beberapa kesalahan. Salah sekali boleh, tapi jangan sampai berkali-kali mengulang kesalahan yang sama. Ya begitulah namanya juga jadi pendidik, saya baru merasakan bagaimana perasaan guru saya dulu saat mendidik saya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *